Colak Colek Istri Tetangga

Bojonegoro Post – Colak-colek yang pernah jadi gaya anak muda di tahun 1990-an, didorong pula dengan lagu dangdut modern Reynold Panggabean yang dinyanyikan Camelia Malik dengan rancaknya dan menjadi hit 10 besar tangga radio nasional, setelah berlalu 26 tahun atau masuk era kekinian tak ngetren lagi sekarang.

Ketika kini anak-anak muda menjauhi colak-colak dan memilih adu wajah dan badan, gaya itu tahun ini diadopsi alias dilakukan para orang tua, generasi yang masa itu masih remaja belia. Adalah Siman (nama disamarkan), lelaki paruh baya warga sebuah desa di Kecamatan Kanor, menelan pil pahit akibat ulah isengnya.

Petani penggarap ini digugat cerai istrinya, Simen (nama disamarkan), yang sudah sama-sama tua, punya menantu dan tiga orang cucu. Persoalannya, sepele sebenarnya. Dia ketahuan mencolek dagu istri tetangganya yang ditinggal suaminya merantau ke Riau. Rahasia colak-colak yang telah berlangsung sejak Pebruari tahun lalu.

Tak sengaja ketahuan saat Simen mendapati suaminya mencolek dagu Timen (nama disamarkan), tetangganya, rembang senja yang dingin. Kurang ajarnya, Timen, kategori golongan wanita matang, usianya sekitar 38 tahun, malah menyorongkan mukanya ke wajah Siman. Adegan sensor mempreteli pakaian pun terjadi.

Simen dijilati cemburu harinya. Perang mulut dan saling cakar pun tak terhindari. Tak ada yang ke luar sebagai pemenang dalam kompetis nafsu ini. Siman yang berdiri mematung menyaksikan dua perempuan bergulat, memilih pulang ke rumahnya yang berjarak hanya beberapa meter dari halaman belakang rumah Timen. Mereka bertetangga dari sejak nenek moyangnya dulu.

Siman yang dimaki dan diinterogasi istrinya mengaku tak sengaja melakukan perbuatan mesum tersebut. Kata dia baru sekali itu. Bahkan, Siman beralibi yang memulai terlebih dulu Timen. Ya wajar saja, kalau cerita Siman benar adanya, perempuan berwajah bersih itu lama tak terjamah tangan laki-laki. Ada sekitar tiga tahun suami Timen tak pulang.

“Ah, yang benar saja pake. Masak meraba dan colak-colek sampai lepas pakaian,” sergah Simen. Siman yang terpojok terdiam. Rokok kretek di tangannya diputar-putar diantara jari telunjuk dan jempol. Tak puas memaki suaminya, Simen melabrak wanita tetangganya tersebut. Sumpah serapah dan kata-kata kotor meluncur enteng dari mulutnya.

“Dasar sundal, wanita gatal, bini orang diserobot saja,” maki Sinem sambil membanting pintu rumah Tinem. Perempuan ini cuma mengulum senyum. Tak kalah sengitnya dia balik menghardik Sinem. “Ya wajarlah kalau suamimu suka meniduriku. Lihat! Aku masih muda, kenceng dan cantik. Dia katanya sudah bosan sama kamu karena sudah kendor dan tua. Kugoyang sekali, eh dia nempel terus,” tukas Tinem.

Pertengkaran soal goyang menggoyang dan tubuh kenceng, tak juga ada penyelesaian. Walhasil, Sinem yang marah esoknya pergi ke rumah anaknya di desa tetangga dan minta cerai. Hati Siman sedih akan musibah itu. Yang disyukuri dari lelaki berwajah tampan ini, aib itu tak disaksikan anak-anaknya, menatu serta cucunya. Andai mereka ada di sana patilah malu itu tak bisa ditebus dengan apa pun.

Hari-hari dilalui Siman dengan sulit. Dia dihadapkan dua pilihan sulit. Hidup dengan Siman entah di mana atau berpisah dengan istrinya. Sebagai manusia biasa Siman menyadari tak ada yang abadi di dunia ini. Ketampanannya akan terus memudar dimakan usia bersamaan dengan menurunnya stamina. Marmi yang masih muda akankah mau lagi bersamanya setelah semuanya sirna. (red/BP)

381total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro