Kekuatan Alam dan Logika di Budaya Jawa

Bojonegoro Post- Ider-ider merupakan ‘ritual’ tradisi jawa yang menjadi pemula dari sebuah acara atau kegiatan. Yakni sebuah momen kulo nuwun atau uluk salam yang sekaligus memberitahukan pada warga sekitar bahwa akan ada kegiatan di lingkungan tempat tinggal mereka.

“Saya rasa, ider-ider masih perlu dilakukan, karena secara kultur masyarakat masih sangat mempercayai kekuatan alam yang menyertai pada sebuah kegiatan,” kata Wahyu Subakdiono, budayawan yang sekaligus tokoh adat di Bojonegoro, Jumat (13/01/2017).

Menurutnya, dimasa lampau ider-ider menjadi sebuah ritual wajib terutama saat menjelang hajatan basar. “Contohnua adalah adat Ngiring manten, yakni dilakukan dengan melepas anak ayam dan cok bakal ketika melintas jembatan,” tambah pria yang pernah menjabat sebagai lurah Ledok tersebut.

Ider-ider dalam adat ngiring temanten itu dipercaya mempunyai energi positif untuk mengurangi hambatan alam seperti hujan. “Selain itu, secara logis pelaksanaannya dapat meningkatkan kehadiran undangan hajatan sesuai harapan,” tambahnya.

Budaya lama itu mulai populer lagi sejak tahun 2015 lalu saat gelaran Festival Bengawan Bojonegoro II. “Sebetulnya secara spiritual, itu adalah sebuah penghormatan pada guru sejati. Yang sebagian merepresentasikannya pada alam, secara hakiki alam tidak pernah berbohong selalu hadir tepat waktu,” pungkasnya. (rayan rabani/rap)

297total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro