Press "Enter" to skip to content

Roh Halus Dua Kelamin Desa Sraturejo

Bojonegoro Post – Desa Sraturejo Kecamatan Baureno, lokasinya berada di selatan dan utara. Diantara dua arah itu membentang jalur utama jurusan ke Surabaya. Warga di sana sebagian besar sebagai petani. Mereka hidup damai dan tenteram. Taat beribadah dan budaya gotong royong tetap terjaga.

Dibalik itu semua, ternyata ada cerita yang dihimpun, Rabu (18/01/2017) dari penuturan sejumlah tokoh warga. Yakni desanya dijaga roh halus, yakni sosok pria dan perempuan.

Yakni, Embah Krebut sebagai Embah Dhanyang pria dan perempuannya, Nyai Krebut. Dhanyang adalah sebutan lain untuk roh halus penjaga suatu desa. Roh halus ini dipercaya bisa memberi baik berkah maupun musibah. Kedua penjaga itu dapat ditemui di Sumur Nganten, tentunya dengan penerawangan batin.

Itu adalah sebuah sumur tua yang diyakini oleh warga, karena dihuni kedua dhanyang tersebut. Sehingga memiliki kekuatan, terutama untuk menyatukan ikatan perkawinan.

Misalnya beberapa pasang pengantin baru, apabila telah membasuh kakinya dengan air sumur tersebut, tidak sekedar demikian. Namun pasangan itu didalam hati berjanji agar perkawinan mereka abadi dan mereka dapat membangun rumah tangganya dengan penuh kerukunan.

Warga secara turun menurun, menggelar sedekah bumi di sumur. Yakni setiap Mei, biasanya dimulai setiap Minggu malam. Di waktu yang telah disepakati, warga mempersiapkan berbagai perlengkapan upacara yang akan digunakan untuk keesokan harinya. Mereka membuat encek, yakni sebuah tempat untuk menaruh makanan atau sajian yang terbuat dari kayu atau bambu. Ada dua encek utama yang dibuat yakni encek lanang dan encek wedok.

“Pada kedua encek tersebut ditaruh berbagai sajian berupa hasil pertanian seperti padi, Jagung, sayur sayuran, kacang, buah buahan dan berbagai jajan pasar. Encek lanang berbentuk lonjong melambangkan alat kelamin laki laki, disusun lebih tinggi dan terdapat lepet dibagian atasnya,” kata Kepala Desa Sraturejo, Supriyadi.

Encek perempuan berbentuk bulat, susunan sajiannya lebih rendah dan terdapat ketupat di dalamnya. Kedua encek itu melambangkan raja lembu amisena dan permaisurinya dari kerajaan ngurawan yang menyamar sebagai pria
dan Nyai Krebut. Pada malam itu, disamping merakit hasil bumi pada encek nganten, para warga juga melakukan jagongan hingga larut malam. kalangan anak anak hingga dewasa.

Dalam kegiatan leluhur tersebut, kirab encek nganten dalam rangka sedekah bumi yang dilakukan warga dengan mengelilingi dusun setempat.

Rombongan kirab menuju ke petilasan Sumur Nganten. Setelah dikirab, dua gunungan yang berisi hasil bumi warga disemayamkan di Petilasan Sumur Nganten dan langsung direbut warga.

Kondisi itu biasanya untuk bisa membawa pulang isi gunungan yang dikirab tersebut. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa semua ikut merebut isi gunungan tersebut. Setelahnya warga dihibur kesenian tayub, hingga di dua tempat. Kesenian itu digelar hingga pagi hari, sinder didatangkan dari luar daerah, yang telah berpengalaman di seni tayub.

Bahkan gunungan warga setempat, selalu dijadikan persembahan Pemkab
Bojonegoro di setiap Hari Jadi Bojonegoro. Keterangan dari pemdes setempat mengatakan
upacara adat nyadran di desanya merupakan upacara yang bertujuan untuk menyejahterakan kehidupan para pelaku upacara melalui ridha yang mahakuasa dan berkah yang diberikan oleh leluhurnya.

Grenjeng adalah nama sebuah dusun yang terletak di desanya. Menurut kepala desa, di dusun warga masih menjaga tradisi warisan leluhurnya. Bentuk tradisi tersebut berupa upacara adat nyadran, atau oleh sebagian warga Grenjeng disebut upacara sedekah bumi. Upacara nyadran ini dilaksanakan sekali setahun usai panen padi, tepatnya di Senin Pon.

“Kirab encek dimulai tengah hari setelah sholat Dhuhur, berjalan dari balai desa menuju sumur nganten,” kata Mbah Carik, sesepuh warga. Selain itu warga wajib mengenakan pakaian adat berwarna hitam dan mengenakan ikat kepala udheng. Sebagian besar peserta upacara membawa encek kecil. Sampai depan komplek makam embah krebut sebagai syarat warga menabur uang dan mereka berebut uang tersebut.

Kemudian digelar doa, setelahnya warga berebut sajian yang ada di encek. Selanjutnya warga menikmati tarian tayub dan gamelannya. (raysa ayu/red)

1361total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi