Sekali Kencan Bisa Satu Juta Rupiah

Bojonegoro Post – Daerah ini diakui atau tidak, bakal menuju kabupatenlitan, akibat kucuran minyak. Tidak lama lagi, saat inipun denyut kehidupan di mulai menampakkan kesibukan hampir 24 jam. Saat sebagian warga tertidur pulas, karena lelah bekerja seharian. Masih ada orang yang bekerja hingga larut bahkan dinihari.

Mereka yang berjuang bekerja di tengah malam itu para pemuas nafsu laki-laki hidung belang, yang bersembunyi di tempat hiburan. Seperti karaoke yang bertebaran di dalam Kecamatan Kota Bojonegoro dan sejumlah desa pinggiran. Mereka berasal dari berbagai daerah dan diantaranya warga setempat dengan beragam usia.

Tak terkecuali, informasi diperoleh, Sabtu (21/01/2017) dinihari disebutkan para ibu rumah tangga yang belakangan jadi tren pilihan lelaki hidung belang. Kehadiran komunitas ibu rumah tangga tersebut, seakan menjadi pilihan alternatif bertamasya di dunia khayalan, namun nyata. Tidak mudah mendeteksi kelompok ini. Jaringannya rapi dibungkus dalam tabir, diliputi misteri.

Mereka ini memilih tempat jauh dari gambaran yang selama ini mengasumsikan sebagai pangkalan wanita cabutan. Tarif untuk membooking kelompok ibu rumah tangga ini tidak tergolong murah. Mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 600 ribu sekali kencan. Lantas, apa istimewanya, dari seorang ibu rumah tangga yang berusia antara 30 tahun sampai 40 tahun.

Konon, seperti diungkap beberapa lelaki hidung belang, kelompok ini lebih disukai, karena layanannya luar biasa. Plus ekstra tambahan mandi kucing. Saat ditanyakan apa makna kata tersebut, Bangkrong, nama disamarkan, dia mengaku tinggal di area ibukota Kecamatan Dander, hanya mengacungkan jempolnya.

Ada beraneka hal yang melatarbelakangi ibu rumah tangga atau istri menceburkan diri dalam dunia hitam itu. Markintil, nama disamarkan. Dia yang mengaku bersuamikan pekerja kasar di perkebunan kelapa sawit, daerah Kalimantan Selatan,bercerita seputar kehidupan pribadinya. Dia bertutur, sebelum kencan berlangsung tarifnya dibicarakan dulu. Ini penting, kata Markintil yang mengaku tinggal di Kecamatan Trucuk tersebut. Karena tak jarang lelaki duitnya nipis, tapi mengaku kaya.

Tak jarang di antara mereka ini, tutur Markintil, terjadi perang tarif. Untuk sekali kencan ada yang banting harga sampai Rp 150 ribu. Dengan berbagai alasan, mereka ini melacurkan diri, karena kecewa dengan suami, semata butuh biaya untuk hidup dan beribu alasan klasik lainnya.

“Sesungguhnya tak ada niatan, melacurkan diri seperti yang saya jalani sekarang. Mulanya ikut teman kerja marketing kosmetik, tapi ternyata banyak diantara kawan-kawan yang cari obyekan melayani kencan laki-laki,” tuturnya yang ditemui malam itu mengenakan baju terusan bermotif kembang, saat bersantai di rumah dekat jembatan Sungai Bengawan Solo.

Dia nampak anggun, tak sedikit pun menyiratkan gambaran wanita nakal kebanyakan. Dia mengaku baru sekitar dua tahun terjun dalam praktik pelacuran terselubung itu. Mengaku cuma mengenyam pendidikan sampai kelas XI SMA, wanita berambut sebahu itu merantau ke Surabaya sebagai buruh pabrik.

Tiga tahun kemudian dia menikah dan pulang ke desa asalnya. Persoalan keuangan yang tak kunjung membaik setelah menikah, dia memilih melacurkan diri. Sementara suaminya pergi merantau jauh. Lain halnya dengan Kembang, nama disamarkan, dia ibu rumah tangga asal desa ujung barat Tuban, menyatakan terpaksa menjadi wanita panggilan untuk memuaskan nafsu pria hidung belang.

Dia mengaku terjebak, karena hutang suaminya. Berbeda dengan Kembang, Bunga nama disamarkan, dia yang benar-benar berprofesi sebagai PSK murni, kini berusia 33 tahun, bermula dari faktor ekonomi. Dia memulai pekerjaan itu sejak menikah dengan lelaki dan tinggal bersama di sebuah rumah kos tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Bunga melayani siapa saja pelanggan yang ingin pelayanannya. Dia juga mempunyai komunitas sesama PSK yang biasanya nongkrong di sekitar warkop Wifi di malam hari. Proses transaksinya dibuat seperti daftar nama-nama PSK dengan harga pada setiap orderan.

Tarifnya yang ini, bisa sampai Rp 1 juta, selama pelanggan sanggup dalam satu babak. Mereka tidak memakai alat kontrasepsi, karena mereka risih atau tidak nyaman dengan memakai alat itu. Seorang ibu-ibu lainnya, Daun, nama disamarkan. Menurutnya, yang melatarbelakangi pekerjaannya, memang karena ingin mencari kesenangan saja.

Uang bulanan yang dikirim suaminya dari tempatnya bekerja di Brunei Darussalam, cukup untuk memenuhi kebutuhan sebulan, ditambah belanja kebutuhan lainnya. Awalnya Daun mengaku hanya coba-coba saja. Tapi, hingga saat ini dia tetap menerima orderan, meskipun sepi dikarenakan proyek Blok Cepu ditinggalkan ribuan laki laki pekerjanya. (reinno pareno/red)

1144total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi