Press "Enter" to skip to content

Legenda Nini Genjor di Tempuran Kalicilik

Bojonegoro Post – Saat mendengar kata Mawot, maka konotasi yang muncul adalah sebuah kawasan prostitusi terselubung. Padahal, kondisi kawasan Mawot yang berasal dari nama Desa Semawot itu, justru jauh dari kesan sebuah kawasan hitam. Warganya disibukkan dengan pekerjaannya yang mayoritas adalah buruh tani.

Keterangan yang dihimpun, menyebutkan, meskipun Desa Semawot, berada di sepanjang aliran sungai. Namun warga setempat tidaklah mempunyai tradisi yang berhubungan dengan sungai, demikian pula warga desa-desa sekitarnya. Meski berada di sepanjang  aliran sungai yang cukup besar, di Desa Semawot hanya terdapat sebuah perahu, itupun baru dibuat pada tahun lalu.

“Disini tak ada kebiasaan menggunakan transportasi air,” kata Hariyanto, Sekdes setempat. Ternyata, hal itu sedikit banyak disebabkan oleh sebuah cerita asal-usul desa yang ada di Kecamatan Sukosewu tersebut, yang dipercaya sebagai tetua pembuka desa.

Nama tetua tersebut adalah Nini Genjor, seorang pertapa perempuan yang menghabiskan hidupnya di atas air. Menurut Hariyanto, Nini Genjor memiliki kegemaran berkawan dengan alam, termasuk dengan hewan-hewan yang ada di sepanjang sungai. “Saat hari-hari tertentu, Nini Genjor punya kebiasaan bercengkerama dengan hewan-hewan,” tambahnya.

Tempat berkumpulnya Nini Genjor adalah sebuah tempuran sungai, yakni bertemunya dua sungai. Tempuran Kali Cilik dan Sungai Pacal tersebut oleh warga setempat dikenal sebagai titik yang singit. “Sering muncul ular besar dan buaya air tawar,” jelasnya.

Bahkan, terkadang terdengar suara musik gending jawa di tempat tersebut. Konon katanya, alunan gending tersebut adalah suara cengkerama Nini Genjor dengan hewan piaraannya yang terbawa angin dan dipantulkan oleh pohon-pohon bambu. Nini Genjor di makamkan di desa setempat, yang hingga kini pesarean Nini Genjor masih disakralkan.

“Ada sebuah pohon jati besar di makam Nini Genjor, setiap tahun diadakan tahlilan saat sedekah bumi,” imbuhnya. Pernah suatu saat, seorang warga pendatang mencoba memotong cabang pohon yang sudah kering ratusan tahun lalu tersebut. Setelah  berhasil memotongnya, warga pendatang itu dikisahkan mendapat bencana hingga meninggal.

Selain tempuran sungai dan pohon jati raksasa tersebut, warga setempat meyakini adanya pusaka tinggalan Nini Genjor, yakni sebuah kutang ontokusuma. Kutang tersebut dipercaya melindungi desa tersebut dari bencana, terbukti saat musim penghujan sungai tersebut tak pernah meluap. Sementara saat kemarau panjang melanda, sungai tersebut tak pernah mengering.

Kutang Ontokusumo tinggalan Nini Genjor tersebut, secara ghaib hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu saja, pusaka tersebut melebur di batang pohon jati keramat tersebut. Hingga kini, tak satupun yang berani mengusik makam Nini Genjor. Hanya sedikit warga yang mau berurusan dengan kehidupan di tempuran sungai tersebut. (rayan rabani/rap)

1786total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi