Press "Enter" to skip to content

Teater Kakus Pentaskan Anak Bupati Jnegoro yang Dirikan Koran Pertama

Bojonegoro Post – Ekstrakurikuler seni teater di lingkungan sekolah di Bojonegoro semakin menggeliat. Portal berita ini, Minggu (19/02/2017) merangkum dalam sebulan tetakhir ini, tidak kurang dari tiga event pementasan teater telah di gelar.

Setelah, teater AWU SMKN 2 Bojonegoro, yang sukses dengan pentas monolog dan drama realis Kampung Kardus, pada akhir Januari lalu, kemudian teater Lorong Putih SMAN 1 Bojonegoro, dengan parade monolognya pada awal Februari kemarin.

Semalam di Sabtu (18/02/2017), giliran teater Kakus SMAN 2 Bojonegoro (Smadabo) menggelar pentas perdananya setelah sempat vakum beberapa tahun.

“Ya ini adalah produksi pertama kami. Dan pihak sekolah sangat mengapresiasi kegiatan ini, apalagi melihat antusias penonton yang juga rata rata pelajar cukup besar. Semoga sangat qpresiatif ini bisa bertahan terus,” kata Taufiqurahman, guru kesenian dalam sambutannya mewakili kepala sekolah.

Drama Titik Koma yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia ini ditulis sendiri oleh Ferly Arvidia, siswa kelas XI Smadabo “Kami belajar menulis naskah sendiri, dengan cara mengadaptasi dari karya karya sastra yang kami nilai bagus dan menginspirasi, seperti novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer ini,” terang Firly yang juga bertindak sebagai sutradara.

Naskah Titik Koma, tambah Firly, mengambil salah satu sisi cerita dalam nobel Bumi Manusia, yakni tentang kidah romantis antara Minke dengan Elenies. Minke adalah gambaran sosok Tirto Adisuryo, pendiri media massa berbentuk kertas (koran:Red) di Indonesia. Dia anak Bupati Tirtonoto, yang bersekolah di HBS sebuah sekolah tingkat menengah Belanda, yang cukup bergengsi di Surabaya.

Minke sempat dibenci oleh keluarganya karena lebih banyak bergaul dengan kalangan Belanda dan berpenampilan seperti orang Belanda dan tidak cinta dengan budaya bangsa sendiri.

Namun anggapan itu ternyata salah. Setelah Minke bertemu dengan Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang menjadi istri tak resmi Herman Mellema seorang pejabat Belanda namun disia siakan, rasa ketersinggungannya sebagai seorang Indonesia berontak, ia membela mati matian Nyai Ontosoroh, untuk mendapat perlakuan yamg adil.

Perkenalan Minke dengan Nyai Ontosoroh juga semakin mendekatkan tautan hatinya dengan Alllenies, yaitu anak Nyai Ontosoroh dengan Herman Mellema. Namun hubungan mereka akhirnya terputus, sebab Herman Mellema, hendak memboyong Allenies ke Belanda.

Keputusan Herman Mellama ini sempat ditentang oleh Nyai Ontosoroh dan Allenies sendiri. Namun dengan kekuasaannya pafa saat itu, apalah arti perlawanan seorang pribumi.

“Minke dan Nyai Ontosoroh harus menerima kenyataan berpisah dengan Allenis,” pungkas Firly. (sighro budiono/hro

1069total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi