Urgensi Pepohonan

Oleh : Urip Widodo
Kabupaten Bojonegoro, siapa yang tak mengenal, akan luasnya hutan jati dan terjadinya kehilangan penjarahan habis habisan di 1998 hingga 2001. Dua tahun berlalu, tak lama kemudian saat naiknya APBD Bojonegoro, karena suntikan dari sektor penambangan minyak. Pun proyek pembangunan menggeliat. Salah satunya perbaikan jalan. Jalan makadam berganti paving, jalan beraspal lobang lobang berganti mulus. Jalur sempit ditambah ukurannya.

Pelaksana pelebaran dan perbaikan jalan, tak berpikir banyak. Asal pengerjaan cepat selesai sesuai jadwal. Pepohonan berusia ratusan tahun ditebangi habis. Itu terjadi di sepanjang jalan Blok Cepu.

Termasuk di poros kecamatan. Juga proyek gedung, semua pohon ditebang habis berganti bangunan.Bojonegoro itu sudah jatuh, tertimpa tangga lagi, begitulah pepatah mengatakan terhadap musibah kerusakan pohon. Baik yang di dalam dan luar hutan.Dari aksi tebang pohon, akibatnya 17 tahun belakangan ini banjir besar terjadi terus menerus.

Banjir yang melanda Bojonegoro yang dijuluki sebagai kabupaten banjir. Tidak tahu sampai kapan musibah atas ancaman bencana alam yang terus mengintai. Sebenarnya musibah tersebut membutuhkan perhatian khusus kepada semua pihak. Tak hanya langkah konkrit dengan segera mengeluarkan bantuan bagi korban. Melainkan ada pesan, berupa peringatan bagi semua pihak mengenai urgensi menjaga pepohonan.

Faktor yang menyebabkan banjir itu terjadi akibat kerusakan pepohonan di hulu dan di daerah aliran sungai. Begitu pula perubahan dari struktur dan pemanfaatan lahan di hilir. Hal itu mengakibatkan daya serap dan kapasitas tampung semakin mengecil. Perubahan iklim, yakni curah hujan yang ekstrim, berkontribusi pula dalam peristiwa bencana alam.

Mencegah penebangan pohon, khususnya untuk pelebaran jalan. Seharusnya Bojonegoro, yang APBD nya sudah mencapai triyunan. Ya, mulailah membeli mesin pencabut pohon yang sangat modern. Sehingga pohon tidak ditebang. Dengan mesin itu pohon hingga berukuran besar sangat mudah memindahkan.

Tentu susahnya memindahkan pohon dengan cara mencabut serta akar-akarnya, jangankan pohonnya, anak pohon sebesar jari manis bukan pekerjaan mudah untuk mencabutnya dengan mengandalkan tenaga otot. Jalan alternatifnya paling ditebang.

Tahukan menebang pohon itu sejatinya sangat rugi bila tidak dimanfaatkan, biasanya pohon-pohon di halaman depan rumah, atau di pinggir-pinggir jalan suka di tebang karena di nilai mengganggu. Menebang pohon cukup beberapa menit, namun menanam pohon hingga besar butuh waktu puluhan tahun. Dengan memiliki mesin pencabut pohon tersebut bertujuan untuk memindahkan pohon di tempat lain sehingga pohon tetap hidup.

Teknologi mesin pencabut pohon yang sangat hebat ini merupakan milik perusahaan spesialis perawatan pohon asal Australia, alat tersebut menggunakan mobil jenis container mini yang di langkapi alat semacam skop raksasa untuk di benamkan disekliling pohon yang hendak di cabut. Bojonegoro harus memiliki, guna urgensi pepohonan.

Penulis adalah:
Sarjana pertanian
Warga Bojonegoro pemilik stand tanaman hias di Jalan Veteran.

548total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro