Press "Enter" to skip to content

Buat Tempe Sudah 29 Tahun di Temu

Bojonegoro Post – Tiap sore, Supriyadi (42) warga Desa Temu Kecamatan Kanor Bojonegoro, mengendarai motor tuanya untuk jajankan produksi tempenya ke sejumlah warung desa. Mulai dari desanya sendiri, terus ke Desa Simorejo hingga kr Desa Bungur. Saat dijumpai, Senin (13/03/2017) pria usia 42 ini mengatakan, per tempenya dijual Rp 2 ribu, untuk ukuran besar dan yang kecil Rp 1500.

“Kalau untuk warung warung saya setori 15 sampai 20 tempe,” katanya saat meladeni pembeli di warung Desa Simorejo kecamatan Kanor.

Dilanjutkan, usahanya tersebut bermula saat ia belajar mengolah kedelai dari saudaranya di Desa Sedeng Kecamatan Kanor. Sehingga pada 1988, ia mulai memproduksi di rumahnya RT 03 RW 06 Desa Temu. Ditanya soal proses produksi tempe, ia menyebutkan tahap pertama kedelai dicuci hingga bersih dan selanjutnya dikukus hingga matang.

“Kalau sudah selesai dikukus. Saya dibantu istri untuk menggiling dengan cara manual. Setelahnya kedelai dipisahkan dari kulitnya,” tambahnya.

Menurutnya, proses tersebut masih perlu pencampuran ampas tahu yang dia beli di pasar dan mencampurkan ragi tempe agar dapat dikemas.”Cara mencampurnya harus rata. Nah, selanjutnya bisa dikemas dan didiamkan semalam,” jelasnya. Dalam penjualannya bapak dua anak ini mengaku, tiap harinya beromset Rp 30 ribu, yang menghabiskan 25 Kg kedelai. (andri yanto/red)

831total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi