Memangkas Kesenjangan

Oleh : Reinno Pareno
Kita sebagai warga negara sesungguhnya sudah sangat memerlukan jembatan, dalam perspektif pencapaian manfaat kebersamaan. Yakni jembatan yang menghubungkan antara mereka berstatus miskin, yang jumlahnya sangat besar di negeri ini, dengan mereka. Sekali pun jumlahnya kecil tetapi sudah kaya raya.

Kesenjangan ini tidak boleh dianggap sederhana, jika dibiarkan akan sangat membahayakan. Sementara orang menyebut warga Bojonegoro miskin, sesungguhnya sebutan itu tidak seluruhnya benar. Sebab diantara warganya, secara ekonomi ada yang kaya raya.

Kita lihat misalnya di kota pusat oleh-oleh ledre ini terdapat bangunan hotel hotel, kilang minyak, pertokoan, swalayan juga ada. Pengusaha-pengusaha perkebunan, tambang, transportasi, perdagangan, semua berkembang dan melahirkan orang-orang kaya. Sarana ekonomi raksasa itu, memanjakan orang Bojonegoro.

Tentu mereka itu menjadi kaya raya. Namun memang, dengan mudah disaksikan di pelosok desa dekat hutan rumah rumah seadanya, kumuh, dibangun dengan bahan yang sangat sederhana. Di rumah rumah sederhana, yang kadang tidak pantas dilihat sebagai rumah itu, tentu penghuninya adalah warga miskin dengan berbagai kekurangan dan penderitaannya.

Mereka itu adalah warga tertinggal, tersisih, miskin dan menderita. Umumnya, mereka itu adalah buruh tani. Atau mereka yang lahir dan besar di sana, tetapi tidak memiliki ketrampilan dan modal usaha, sehingga hidup mereka seadanya seperti itu. Melihat kenyataan itu, secara ekonomis dan sosial sesungguhnya telah terjadi kesenjangan, gap atau jurang pemisah yang sedemikian jauh, antara si miskin dengan si kaya. Warga miskin sebagaimana orang kaya ada di mana mana, baik di kota maupun di desa.Jumlah mereka sedemikian banyak, karena itu sangat tidak mungkin kalau para pemimpinnya tidak pernah melihatnya.

Pendatang asal luar Jawa yang lama mukim di sebuah desa di Kecamatan Bubulan, mengaku lama hidup di desa di daerah asalnya. Tetapi tidak pernah menyaksikan sebagaimana cerita kawannya, yang justru bekerja di Jakarta. Ketika menghadiri pesta pernikahan salah seorang kerabatnya di sebuah desa pinggir pantai utara Jawa, menyaksikan orang-orang yang sangat miskin.

Cerita itu isinya sangat menyedihkan. Pesta belum usai, di luar rumah pesta itu, sudah berkumpul puluhan warga miskin yang berharap mendapatkan bagian dari sisa-sisa makanan pesta tersebut. Fenomena seperti itu, bagi warga setempat yang umumnya miskin, beberapa saja yang berkecukupan, sudah menjadi pemandangan biasa. Akan tetapi bagi kawan yang baru kali itu menyaksikannya, menjadi sedih dan haru.

Jurang, gap atau kesenjangan itu kadang sangat jauh antara kelompok warga yang berlebih dengan warga yang miskin. Kesenjangan itu ada di mana-mana, ada di kota dan juga di desa. Di kota besar, di Jakarta sekalipun, kita dengan mudah menyaksikan beberapa warga kaya di tengah lautan kemiskinan. Demikian juga di pedesaan, terdapat pemilik tanah yang kaya, mereka hidup di tengah tengah warga miskin sebagai buruh tani. Para buruh ini hanya sebatas memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, tidak mencukupi, mereka miskin.

Kemiskinan menurut ajaran apapun harus dihilangkan. Kemiskinan tidak saja menjadikan sebab penderitaan yang bersangkutan, tetapi secara ekonomi juga tidak menguntungkan. Warga miskin bukan menjadi potensi ekonomi, terlebih-lebih terhadap ekonomi modern. Contoh yang amat mudah, yakni tidak mungkin warga miskin dijadikan pasar benda benda mahal. Membangun universitas modern dengan biaya tinggi tidak akan mendapatkan calon mahasiswa dari komunitas itu, kecuali disediakan beasiswa untuk mereka.

Bojonegoro, sesungguhnya pula sedang memerlukan sosok pemimpin yang mau dan berani menjadi jembatan itu. Kekuatan penghubung itu sesungguhnya sudah lama ditunggu tunggu. Setiap lahir pemimpin baru dari hasil proses demokrasi, diharapkan menjadi jembatan dan bahkan menghilangkannya agar kesenjangan itu tidak selalu menjadi pemandangan hidup menyedihkan sehari hari belum tersentuh maksimal dalam masa kepemimpinan lima tahun.

Penulis adalah
Pemimpin Redaksi
bojonegoropost.com

452total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro