Antara Hama Dan Tikus

Oleh : Oskar pekajangga

Sembari ku termenung dalam suasana pelik, sambil menyuguhi secangkir kopi khotok, nusantara, tidak seperti biasanya dikala menyuguhi kopi, namun  kali ini kenikmatannya serasa kopi rasa asin. Tiba-tiba kawanku menepuk bahuku dan bertanya kok sepertinya sampean gelisah bung, tidak bung jawabku dengan singkat.

Lalu, malampun berlalu. Mentari menyambut pagi, dengan suasana sedikit berbeda dari hari sebelumnya, kaum pelajar dengan pendidikannya, kaum buruh dengan pekerjaannya, namun berbeda dengan kalangan, politis. Oohh ternyata  tanggal 19 April 2017, luar biasa menjadi topik obrolan khusus yang membuat mata di seluruh penjuru tertuju, kira-kira begitu.

Rupa rupanya malam menyambut dan sayapun bergegas melangkah demi langkah dan bergerak mengiringi langkah demi langkah ke warkop, rasa kegelisahan terus menghantui pikiran saya, muncul dan muncul lagi, suatu Persoalan yang sangat urgensi di kampung halaman yang mengalami ancaman gagal panen.
Merasakan bagaimana susah payahnya menjadi petani, mengawali dari awal persiapan lahan bahkan pada tahap demin tahap, sungguh memprihatinkan jikalau dihantui persoalan hama .
Pada umumnya masalah pangan tidak  terlepas dari  tanaman Padi yang menghasilkan salah satu makanan pokok yang berguna bagi kita, yaitu beras dan berfungsi sebagai asupan karbohidrat dalam tubuh kita, begitupun jagung sebagai penunjang dikala musih hujan sambil menunggu waktu panen padi.

Pada zaman dahulu kelaparan  pernah dialami, menurut cerita dari orang tua, akan tetapi sungguh mengingatkan kembali, di kala itu, untuk bertahan hidup jalan satu-satunya mencari ubi hutan sebagai pegganti makanan pokok.
jikalau hal yang mendasar ini sudah menjadi ancaman pangan hari ini maupun kedepannya.

Lantas apa dan bagaimana langkah kongkrit dan solusinya. Siapa yang disalahkan dan siapa yang bertanggung jawab, tentunya jawaban ada pada diri kita semua.

Sekilas melihat statment di media sosial, bahwa pada dasarnya, sebelum terjadinya serangan hama tikus, kita mengalami keterlambatan turunnya air hujan yang tidak seperti biasa, kekuatiran ini sudah muncul sejak Desember, begitupun bentuk antisipasinya dengan distribusi beras dan lainnya.
Faktor seperti ini tidak bisa di pungkiri namun perlu untuk dievaluasi dan ditanggulangi dengan baik.

Mencermati dan mencoba memahami  persoalan yanh kita alami maupun yang dihadapi.
Di negara kita banyak kendala-kendala yang dialami hanya berbeda dari latar belakang permasalahannya, bercermin di daerah lain para petani, bukannya di hadapkan oleh hama-hama seperti biasanya terjadi, akan tetapi yang mereka hadapi hama-hama kapitalis yang merasuk ke sendi-sendi para petani, yang dimana mengancam dan menghancurkan Hak-hak mereka sebagai petani, dari para-para tangan korporasi, perlawananpun menjadi jalan satu-satu yang tak kunjung selesai untuk memperjuangkan kelestarian maupun keselamatan lahan pertanian yang sudah dikelola berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun, sebagaimana sejati bertani.

Demikian pula, bukan hanya hama tikus yang mencari mangsa dan merajalela di lahan persawahan, akan tetapi tikus-tikus berdasi yang sopan santun, sangat banyak dan merajalela di negara kita, kekuasaan menjadikan lahan untuk para elitis.

saya merasa bahwa tanpa disadari, melihat kondisi iklim, kondisi geografis, dengan lahan-lahan tadah hujan, ketergantungan kitapun sangat tinggi, dan kiranya terobosan, strategi membangun. Mengutip salah satu kata-kata dari seorang filsuf revolusi industri  katanya, bukan alam pikiran yang membentuk dia, melainkan kondisi sosial, ekonomilah yang membentuk alam pikiran.

Penulis adalah
Mahasiswa Universitas Bojonegoro

725total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro