Press "Enter" to skip to content

Permainan Tradisional Mengandung Ajaran Moral

Bojonegoro Post – Kabupaten Bojonegoro belumlah menyandang status kota metropolitan,
dengan kondisi geografis yang didominasi hutan dan persawahan akar
tradisi masih melekat di setiap sendi kehidupan masyarakatnya. Namun gelombang modernisasi justru lebih terasa di generasi mudanya, termasuk anak-anak kecil.

Sebuah survey yang dilakukan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bojonegoro, keterangan yang dihimpun, Senin (24/04/2017) menyebutkan ternyata menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan.

Ternyata permainan tradisi menjadi hal yang sudah mulai luntur. Ini juga terjadi di pelosok desa. Rata-rata, anak di pelosok desa sudah tak mengenal lagi detil
permainan tradisional. Meski sebagian dari mereka masih tahu bagaimana permainan itu dilakukan. Misalnya egrang, mereka hanya tahu bahwa cara memainkan egrang adalah dinaiki. Tapi saat diminta mencoba,
kebanyakan kesulitan.

Hal tersebut bukanlah mutlak kesalahan anak-anak, namun
perang orang tua juga mempunyai peran penting. Padahal permainan tradisional mengandung pesan dan ajaran moral yang sangat dalam. Contohnya, dengan salah satu lagu dolanan yang dahulu banyak dinyanyikan saat bermain.

Dalam lagu dolanan sangat banyak pesan moral yang terkandung. Dahulu
sepulang bermain dimasa kecil dahulu, selalu diajarkan maknanya oleh orang tua. Disitulah peran penting orang tua dalam terus melestarikan budaya dan ajaran moral yang terkandung di dalamnya.

Fakta lainnya, yakni ternyata permainan tradisional dianggap masih menarik bagi-bagi anak. Saat melakukan uji coba di kota misalnya, mereka diminta mereka bermain pathil lele. Yang terjadi adalah mereka berebut untuk
memainkannya, itu menunjukkan bahwa sebenarnya permainan tradisional masih dapat menghibur anak-anak.

Sementara itu menurut Teguh Eko Cahyono, seorang guru seni rupa di kawasan kota, salah satu penyebab lain makin langkanya permainan tradisi dilakukan adalah mengenai perangkat yang disediakan.”Rata-rata perangkatnya sulit dibuat oleh anak-anak,” jelasnya.

Lagi-lagi Teguh menjelaskan bahwa masih dibutuhkan peran orang tua,
baik dalam hal ajaran moralnya maupun kesediannya meluangkan waktu
untuk perangkatnya. “Kalau sudah demikian, bukan tak mungkin bila permainan tradisional kembali dimainkan. Termasuk ajaran moralnya,”
pungkasnya. (rayan rabani/red)

1385total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi