Press "Enter" to skip to content

Tradisi Sawuran Di Nyadran Tondomulo

Bojonegoro Post – Warga Desa Tondomulo Kecamatan Kedungadem Bojonegoro, memiliki tradisi Sawuran saat acara nyadran atau sedekah bumi yang di gelar lokasi petilasan Mbah Kobot atau dikenal dengan eyang Panji, tak jauh dari Gunung Panji.

Acara nyadran yang dilaksanakan setiap tahun itu tepat di hari Rabu Pon (03/04/2017) kemarin itu juga dilakukan prosesi Sawuran antar warga. Sebelum prosesi Sawuran atau tawuran warga desa terutama warga Dusun Jantok, Tondomulo dan Dusun Kedungbulus melakukan persiapan sejak Pukul 07.00 WIB.
Warga dusun lainnya berdatangan dengan membawa tumpeng nasi, sayur atau kuah dan jajanan tradional. Usai melakukan pembersihan lokasi bersama segenap perangkat desa setempat dan dengan persiapan tumpeng yang sudah terkumpul guna ajang Sawuran.

Sawuran atau tawuran dengan menggunakan nasi yang terkumpul di besek atau tempat nasi besar terbuat dari.bambu adalah tradisi yang sudah berlangsung sejak turun menurun.

Tepat Pukul 12.15 WIB, warga berkumpul di bagian utara dan selatan hingga dimulailah Sawuran atau bisa disebut perang dengan menggunakan media nasi, sayur dan jajanan yang dibawa para warga.

Ajang perang yang seru ketika menyaksikan.prosesi Sawuran antar warga hingga habis nasi yang ada dibesek. Kemudian setelah Sawuran selesai ditutup dengan pembacaan doa.::”Sawuran ini dilakukan sebelum pagelaran kesenian wayang thengul,” ujar Noto, Kasun Jantok.

Noto menceritakan Mbah Kobot atau Panji berasal dari Desa Ngrukung Lamongan, yang karena tidak betah atau krasan tinggal di desa tersebut akhirnya singgah dan menetap di Dusun Jantok.”Mbah Kobot memiliki dua putra, Panji Laras dan Panji Saputro. Karena dua anaknya berselisih pendapat maka terjadilah perang saudara. Hingga Panji Saputro kalah dan melarikan diri ke Kabupaten Tuban,” jelasnya.

Tawuran dua saudara itula lanjut Noto yang refleksikan dengan ajang Sawuran nasi dan lainnya sebelum pagelaran wayang thengul.

Sementara itu Yanto, Kades Tondomulo menyebutkan tradisi nyadran atau sedekah bumi dengan prosesi Sawuran ini akan tetap.menjadi ikon budaya desa. Apalagi.prosesi Sawuran juga pernah memperoleh juara pertama tingkat Propinsi dalam pagelaran seni tradisi budaya di Kabupaten Nganjuk pada 1997 lalu.”Kegiatan nyadran dengan Sawuran juga bisa menjadi aset budaya hingga menjadi tujuan wisata seni dan budaya bagi pemerintah desa dan Pemkab Bojonegoro,,” tandasnya.

Selanjutnya usai pagelaran wayang thengul di lokasi Gunung Panji, malamnya acara nyadran bergeser.di halaman Balai Desa Tondomulo dengan.kesenian tayuban. (muhammad nastain/red)

1497total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi