Press "Enter" to skip to content

Dibalik Pelaksanaan Seminar HAM di Pajeng

Bojonegoropost – Dibalik pelaksanaan Seminar Penegakan HAM dan Sarasehan Wawasan Kebangsaan di Desa Pajeng, ternyata ada alasan khusus mengenai pemilihan lokasi. Salah satunya adalah sejarah yang mencatat bahwa desa yang terletak di perbatasan Bojonegoro-Nganjuk ini merupakan daerah berdarah pada akhir masa penumpasan partai terlarang, PKI.

“Pajeng ini adalah daerah yang dahulu terfitnah, sehingga darah tumpah. Tercatat korbannya paling besar,” kata Suudin Aziz, salah satu narasumber kegiatan.

Namun, warga Pajeng telah membuktikan diri tanpa harus mendeklarasikan apapun, yakni lewat rukun kematian yang hingga kini terus berlangsung. “Tanpa deklarasi, rukun kematian mampu menjawab dan menjadi wujud rekonsiliasi,” tambahnya.

Sebelumnya, kegiatan itu bakal dilangsungkan di daerah rintisan wisata yang ada di Desa Pajeng, Alas Ubalan. Namun mengingat curah hujan tinggi yang menyebabkan akses jalan menuju lokasi tak memungkinkan, akhirnya panitia memutuskan untuk memindah lokasi acara di Balai Desa.

Rukun Kematian di Pajeng sendiri sudah menjadi semacam ‘organisasi’ layaknya organisasi lain di tingkat desa. Dimana, awalnya muncul dari kesadaran lokal mengenai beban biaya ritual pemakaman yang dianggap justru menambah derita keluarga yang ditinggal mati.

Berangkat dari situlah, setiap kali ada warga Desa Pajeng yang tertimpa musibah kematian, ada kesepakatan bahwa pada hari itu juga semuanya harus meninggalkan pekerjaan dan bahu membahu membantu meringankan beban keluarga duka untuk menggelar segala jenis ritual kematian.

Selain Rukun Kematian, ternyata ada kebiasaan lain yang diakui mengurangi beban hidup warga Desa Pajeng, yakni budaya jimpitan. Dimana secara rutin, setiap warga desa rela menyisihkan satu jimpit hasil buminya untuk kemudian dikumpulkan.

“Contoh hasil dari budaya Jimpitan adalah untuk pendanaan kegiatan Agustusan, yang kalau di desa lain mungkin bersumber dari APBDes atau urunan dadakan, di Desa Pajeng juga diambilkan dari jimpitan itu,” kata Mujianto, warga Desa Pajeng. (ramon pareno/red)

428total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi