Catatan Duka Peserta Usai Seleksi Perangkat Desa

Oleh : Muh. Nastain

Kompetisi akbar seleksi ujian tulis perangkat desa serentak se-kabupaten telah usai digelar Kamis. 26 Oktober 2017 lalu. Banyak hal yang menarik dan mengharukan untuk dijadikan catatan dan pelajaran yang sangat berharga hingga tak terukur nilainya bagi sebagian peaerta yang telah mengikuti ujian tulis perangkat.

Sebagian publik menyatakan kepuasan karena di antaranya telah berhasil meraih peringkat skor tertinggi. Namun sebaliknya juga publik belum puas dan kecewa dengan hasil pelaksanaan seleksi ujian tulis perangkat desa itu yang dikoreksi dengan Scanning dan disiarkan langsung terbuka dengan video streeming.

Diantara kekecewaan peserta ujian seleksi itu mengungkapkan rasa kecewa yang sangat mendalam saat hasil pengkoreksian tak sesuai harapan. Apalagi seketika itu peserta pun melakukan protes kepada Tim pengloreksi di GOR SMT Terpadu Bojonegoro.

Kekecewaan itu seperti yang menimpa peserta perempuan asal Desa Sarangan Kecamatan Kanor, Luluk Qurrotul’ Aini (24). Kekecewaan itu disebabkan haail korekai LJK (Lembar Jawaban Komputer) yang diperolehnya berskor 0 (nol). Kata Luluk, seperti jawaban yang disampaikan Tim koreksi, skor nol itu disebabkan tanggal lahir dan kode soal tidak ditulis oleh peserta. Hingga LJK tidak terbaca dan diskor nol. Padahal dia menyakini bahwa data itu sudah ditulis dengan benar.

“Jujur sangat memalukan waktu itu pak. Sungguh saat itu bener-bener bikin nyeset wajah rasanya pak. Bener-bener tak terima kala itu. Jerih payahku kok ndak ada hasilnya sama sekali. Sumpah aku kemarin ketika baru pengumuman mau keluar rasanya nyiset wajah pak,” ungkapan Luluk penuh kecewa.

“Ini ndak adil sekali. Kalau seperti ini merasa terugikan. Susah payah yang kita jalani tak ada hasilnya sama sekali. Aku sangat malu ketika tahu nilaiku digondol kucing ndas ireng atau siapa kok ndak ada. Rasanya seakan-akan begini ini paling bodoh. Padahal ya merasa ndak bodoh amat. Wong ngeneki yo jek iso miker,” kesahnya melanjutkan ceritanya

“Aku juga pernah dicemooh orang. malahan. Masak ndak kamu jawab sama sekali ya ? Masak ndak ada yang bisa ? dan langsung aku sambar. Kok ada ndak ku jawab lho. Niat ndak jawab ya ndak mungkin aku berangkat. Tiwas buang-buang bensin. Buat aku belajar sebelumnya juga,” kisah Luluk.

Ungkapnya juga terus ada teman mengejek. Teman yang daftar PPS saat akan ujian tulis.”Nanti isi ljo ya biar ndak nol lagi,” ujar Luluk dengan logat khas jawa mengakhiri ceritanya.

Berbeda lagi dengan ceritanya Wawan Hidayat (40) dan Rohman Dwi Jayanto (31) peserta asal Desa Talun, Kecanatan Sumberrejo. Saat mengetahui skornya 0 (nol) dia juga kaget. Apalagi Wawan dan Jayanto yang bekerja satu atap itu. Namun Wawan di skor nol karena dengan alasan tanggal lahir dan kode soal yang tidak dituliskan hingga LJK tidak terbaca. Itu jawaban Tim saat dia mempertanyakan. Meskipun diakuinya dia sudah yakin bahwa semua data sudah dituliskan termasuk tanggal lahir dan kode soalnya.”Lalu kemana tanggal lahir dan kode soal saya? Apalagi saya dan Jayanto ini ibaratnya satu rumah. Cuma beda formasi. Dia bekerja dengan saya. Kok ya dapat nol juga,” keluhnya.

Tetapi berbeda dengan kisah Rohman Dwi Jayanto atau disapa Anto ini saat mempertanyakan perihal haail koreksinya yang nol. Itu karena menurut Tim Unnes saat di lokaai pengkoreksian, karena peserta menuliskan kode soal dengan bilangan 0. Sementara pihak Unnes hanya memberikan kode soal hanya pada bilangan angka 1 – 9. Sedangkan pada saat ujian tulis itu Anto mendapat naskah dengan kode soal 0233.

Anto menegaskan artinya bahwa kesalahan tidak terbaca itu bukan pada peseeta, namun kesalahan pada pihak pembuat naskah soal.”Iya mas. Waktu mengerjakan soal saya mendapat naskah dengan kode soal 0233. Padahal saya juga sudah hati-hati dalam mengarsir di LJKnya. Ee gak taunya malah kode soal yang di naskah yang salah. Ini jelas bukan saya yang salah. Tapi pihak pembuat soal,” keluhnya.

Hal yang sama juga di alami Sriwijayani (21) peserta asal Desa Pohbogo, Kecamatan Balen yang juga mendapat naskah dengan kode soal 2206. Persoalan dari hasil pengkoreksian yang menumpa peserta itu sangat sederhana.

Selain dikorekai cepat dengan Scanner juga bisa disertai koreksi LJK (Lembar Jawaban Komputer) secara manual yang bisa dilakukan oleh tim seleksi di masing-maaing desa atau tim kecamatan. Sehingga koreksi LJK scanning bukan merupakan hasil akhir dan final.

Adapun jika terdapat LJK yang tidak terbaca karena rusak atau penyebab laiinya tim petugas koreksi bisa menggunakan cara koreksi manual atau dengan pemindai Image Scanner. Yakni LJK yang tidak terbaca di foto lalu disalin pada LJK kosomg. Sehingga tim tak perlu khawatir dianggap curang.
Apalagi menurut jawaban dari Bupati Bojonegoro, H. Suyoto terjadinya skor 0 itu karena setelah dilakukan pengecekan oleh tim kebanyakan peserta tidak menuliskan tanggal lahir dan kode soal. Ketika akan dilakukan perbaikan atau pembenahan dikhawatirkan tim dianggap curang. Karena seleksi ujian tulis perangkat desa sifatnya kompetisi.

Padahal ada dua alat pemindai scanner, menggunakan optik scanner dan Image scanner. Adapun Optic Scanner digunakan untuk LJK yang bisa terbaca dan Image Scanner untuk LJK yang tidak bisa terbaca. Tidak lantas diberikan nilai nol yang jelas sangat merugikan peserta ujian.

Sedangkan para peserta mengaku dan yakin dengan sebenar-benarnya telah menuliskan kode soal dan tanggal lahirnya. Tapi toh tetap tidak terbaca.

Jika mengacu pada Tata terrib tim seleksi ujian tulis peraangkat desa pada nomor 17, juga sudah disebutkan bahwa peaerta yang tidak mengikuti seleksi ujian tulis perangkat desa diberikan nilai 0 (nol). Dan pada nomor 19, disebutkan bsgi peserta yang melanggar larangan pada nomor 18 poin f dan g, yakni membawa naskah soal sekeksi ujian tulis dan LJK keluar dari ruang ujian dan poin g (menggantikan atau digantikan oleh orang lain maka keluarkan dari ruang dari ruang ujian dan diberikan niai 0 (nol).

Dengan kata lain bahwa hanya peserta yang tidak mengikuti dan menggantikan atau digantikan atau melanggar yang berhak mendapat nilai 0. Apalagi dalam Tatib Tim seleksi juga tidak menyebitkan LJK yang tidak teebaca diberikan nilai 0.

Namun sebaliknya, peserta yang tidak hadir mendapat skor kosong tanpa angka. Para peserta yang diberikan nilai nol yang saya jumpai merasa sangat kecewa dan sangat dirugikan dengan hasil koreksi tersebut. Mereka kecewa atas ketidak-adilan dan kesewnang-wenangan (diskriminasi) merampas hak azasi sebagai peserta yang telah mengikuti ujian tulis dengan berikan nilai nol. Dan mereka tidak diberikan hak yang sama dengan peserta laiinya.

“Skor nol bagi saya adalah hukuman sosial dan pembunuhan karakter di tengah masyarakat. Ini beban moral dan mental yang sangat berat. Kami juga merasa terdzalimi dan terkebiri dengan hasil nol tersebut,” tegas Mat Darto (34) peserta asal Desa Temu, Kecaamatan Kanor.

Sehingga mereka peserta mengadukan kekecewaan dengan melayangkan surat pernyataan bersama kepada Bupati Bojonegoro namun toh tidak ada tanggapan dan tindaklanjutnya.

Selanjutnya peserta sebanyak 16 orang itu tak patah semangat terus berjuang menuntut nilai mereka. Kemudian mereka melayanglan aduannya kepada Presiden RI, H Joko Widodo.

Mereka berharap besar kepada presiden agar bisa menindaklanjuti adauannya itu sehingga ada tanggungjawab dari Tim Kabupaten dan Pemkab Bojonegoro sebagai pelakaana atau penyelenggara yang telah memberikan nilai nol untuk mengkoreksi LJK dengan cara manual atau menggunakan cara apapun.”Semoga pak Presiden menindaklanjuti aduan kami dengan arif dan bijaksana aerra berkeadilan hingga kami memperoleh keadilan dan hak yang sama sebagai peaeeta yang telah hadir mengikuti ujian tulis perangkat desa,” ujar Tofiq Widodo Aprianto (31) peserta asal Deaa/Kecamatan Baureno yang juga bernasib nol

Demikian itu cerita para peserta yang telah mengikuti seleksi ujian tulis perangkat desa yang merasa sangat kecewa dan dirugikan usia hasil pengkorekaian scanning.
.
Keikutsertaan peserta yang kecewa menjadi pengalaman dan pelajaran yang tidak bisa dinilai denan materi. Kaeena mereka menanggung beban moral dan mental yang berat. Meskipun begitu mereka tetap semangat tanpa putus asa menuntut kesdian dan kebenaran yang harusnya di dapatkan.

Penulis adalah wartawan bojonegoropost.com

3102total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro