Berburu ‘Pupuk Cap Kucing’ ala ‘Sukarjan’

Bojonegoropost – Pagi telah habis, hari ini (04/12) Sukarjan (nama disamarkan) memilih untuk menghabiskan siangnya di sebuah warung yang sederhana. Tepatnya di tepi jalan utama Desa Ngraseh Kecamatan Dander. Radio tua milik empu warung tak lagi bersuara, Sukarjan yang profesinya petani itu memilih menghibur diri menggunakan gadgetnya, akun pada laman facrbook adalah favorit pria berumur itu.

“Saya sedang cari informasi, sudah waktunya memupuk sawah,” katanya.

Tak lama wedang kopi pesanannya pun tiba, Sukarjan masih asik dengan gadgetnya. Sebentar ia menghela nafas, sebentar kemudian ia tersenyum simpul. Sambil terus memainkan ponselnya, ia menggapai cangkir kopi
yang berjarak se buku di samping kirinya.

Sambil bergumam, Sukarjan sedikit membetulkan posisi duduknya. “Lha iya, setiap musim tanam kok diajak kucing-kucingan sama pupuk,” gumamnya terhenti bersamaan dengan mulai dihirupnya kopi pahitnya.

“Pupuk kok seperti obak delik, dikatakan langka kok katanya tidak. Tapi kalau disebut mudah, kok ya susah dapatnya,” tambahnya sambil menawarkan kopi pada bojonegoropost.

Obrolan kemudian mengalir, Sukarjan menggambarkan bahwa tumpukan karung pupuk itu seperti sulapan. “Pupuk cap Kucing itu saat datang berkarung-karung, ditunggu berhari-hari, tapi selalu habis dalam sekejap,” katanya.

Ia menduga, petani berduit lebih beruntung. “Sebelum pupuk datang kayaknya ada midel inden, yang punya duit menitipkan uangnya. Sehingga tanpa perlu ngantri dan nyanggong, jatahnya sudah jelas,” imbuh Sukarjan.

Sukarjan agaknya termasuk petani yang sadar akan pentingnya informasi. Ia beranjak merogoh kertas lusuh dari selipan celananya, berhati-hati digelarnya kertas itu sambil menjauhkan cangkir kopinya. “Ini saya dapat dari toko-toko pupuk,” katanya sambil memperlihatkan isi kertasnya.

Tulisan tangan Sukarjan lumayan terbaca, menurutnya kertas itu termasuk sakti. “Kalau ada yang jual pupuk jauh dari harga ini, langsung saya beber. Biasanya kemudian harganya agak turun mendekatinya,” tambah Sukarjan.

Isi kertas itu tak lain tak bukan adalah harga pasaran berbagai jenis pupuk yang saat ini berlaku di Desa Ngraseh ataupun Jatiblimbing. Tertulis diantaranya harga pasaran di toko-toko untuk jenis Urea adalah Rp.140 – 145 ribu, ZA Rp 105 ribu dan jenis SP  Rp.150 – 160 ribu. Sementara untuk harga subsidi di kelompok tani, jenis urea Rp 100 – 105 ribu, ZA Rp 80  –  85 ribu dan SP Rp 110 ribu.

Sukarjan mengaku, terkadang dirinya numpang nama kerabatnya yang tinggal di desa lain. “Kalau yang itu, karena sifatnya numpang maka kertas sakti ini tidak terpakai. Mahal sedikit tetap saya beli, lha wong memang kebutuhan pokok,” pungkasnya sambil menghirup tegukan terakhirnya. (muhamnad rifai/red)

116total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro