Bardi, Setiap Pagi Juga Berburu Enthung

Bojonegoropost – Hujan yang kian kerap mengguyur di penghujung tahun ini juga membuat daun-daun di pohon jati semakin lebat. Hujan lebat ini oleh warga yang tinggal di tepian hutan, termasuk di wilayah Bojonegoro Selatan, juga disebut dengan laboh.

Meski belum dapat dikatakan sebagai hutan yang rimbun, akibat pembalakan, namun hutan jati di Bojonegoro masih menjadi habitat bagi sejumlah fauna yang menjadi buruan warga sekitarnya.

Salah satu yang rutin dicari adalah kepompong ulat jati, atau dalam bahasa setempat disebut dengan nama enthung. Biasanya, enthung dicari di bawah daun jati yang telah jatuh ke tanah, yakni saat pohon jati meranggas pada musim panas.

Namun, bagi sebagian warga Temayang, musim labuh tak menghentikan mereka untuk berburu enthung. Lebatnya daun jati ditambah dengan hujan yang sering disertai angin kencang, seringkali membuat enthung jatuh ke tanah.

“Karena setiap pagi saya ke tegalan, sambil bersih-bersih saya juga mencari enthung,” kata Bardi (13/12), petani yang punya lahan garapan di kawasan hutan jati.

Ada beberapa motivasi bagi Bardi untuk berburu enthung. Yang pertama, bagi Bardi dan keluarganya, enthung merupakan lauk pauk musiman yang cukup lezat. Selain itu, enthung cukup berjasa bagi keluarga-keluarga seperti Bardi, yakni menghemat pengeluaran belanja dapur.

Tak hanya menghemat, di saat tertentu enthung yang memiliki ukuran hanya 2-4 cm dan berwarna coklat tua itupun dapat menjadi pendapatan tambahan. “Saat musimnya, enthung laku dijual. Harganya lumayan, bisa mencapai 60ribu Rupiah per kilogramnya,” tambahnya.

Meskipun lebih banyak didapat pada awal musim kemarau, enthung ini mempunyai siklus puncaknya pada bulan Nopember – Desember. “Kalau enthung yang pas kemarau itu lebih kurus. Tapi memang banyak, karena banyak yang mencari, anak-anak kecil juga banyak masuk hutan. Kalau akhir tahun gini, enthungnya gemuk-gemuk, tapi yang berburu sedikit, karena hutannya masih basah,” tambahnya.

Alasan lain bagi Bardi, ada keyakinan bahwa mengkonsumsi enthung akan berdampak positif bagi kesehatan tubuh. “Bisa mencegah penyakit gatal-gatal dan mengurangi pegal linu,” jelasnya.

Enthung dapat diolah menjadi berbagai jenis olahan kuliner. Biasanya, untuk masakan rumahan, enthung yang menurut penelitian memiliki kabdungan protein sangat tinggi itu, diolah dengan cara ditumis. “Kadang ditumis, dicampur lodeh, atau jadi pengganti daging sapi saat bikin asem-asem. Kadang ya buat rempeyek enthung,” pungkasnya.

Setelah siklus puncak enthung berakhir, maka akan muncul musim ulat jati. Hingga akhirnya ulat-ulat itu menghilang dan berputar lagi menjadi enthung. (muhammad rifai/red)

287total visits,0visits today

Share this Post :

No comments yet.

Leave a Reply

© 2016 Bojonegoro Post. All Rights Reserved. Design by ThemeVina
Open


Hotline redaksibojonegoropost@gmail.com
Redaksi Jl. MH THamrin, Tegal Luwung No 17, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi