Press "Enter" to skip to content

Jerit Histeris di Pintu Air Waduk Pacal

Bojonegoropost – Salah satu bangunan yang menjadi ikon Kabupaten Bojonegoro, adalah Waduk Pacal di Desa Kedungsumber Kecamatan Temayang. Dibangun dan
mulai beroperasi pada 1933.

Bangunan raksasa yang merupakan peninggalan penjajah Belanda tersebut juga menyimpan sejumlah cerita. Yang paling diyakini adalah mengenai arwah arwah para pekerja Waduk
Pacal tersebut. Dikisahkan adalah pekerja rodi yang kala itu mendapat kabar bahwa sang anak mengalami sakit keras.”Kebetulan pekerja itu adalah warga lokal, anaknya terkena malaria,” kata Minto, warga sekitar. Minggu (17/12).

Namun karena statusnya sebagai pekerja rodi, sang pekerja tak berani meminta ijin padamandor proyek. Ia bertekad untuk melarikan diri dengan cara menyusun bebatuan di pintu keluar air Waduk Pacal, karena aktifitas tak lazim yang dilakukan hari demihari, akhirnya niata melarikan diri tersebut diikuti oleh belasan pekerja lain.”Hingga hari yang ditentukan, mereka bersiap melarikan diri melalui pintu
air,” tambahnya.

Saat berada di lorong pintu air itulah nasib malang menimpa mereka, tiba tiba air dalam jumlah besar tiba dan membuat pengawas menara mencoba membuka pintu. Namun upaya itu gagal, hal tersebut membuat
pintu air tak terbuka sempurna dan terjangan air berputar di dalam menara.

“Akhirnya belasan pekerja seperti diaduk di dalam pintu air; semuanya
tewas seketika tanpa ada yang mengetahui,” terangnya. Beberapa hari kemudian, barulah jasad pekerja itu muncul di permukaan, hanya satu jasad yakni pekerja yang anaknya sakit malaria. Jasad pria itu hanyut dan ditemukan oleh warga setempat, termasuk oleh sang isteri.

Kegemparan terjadi, hingga akhirnya sejumlah warga yang terdiri dari wanita dan anak anak bermaksud menanyakan hal itu kepada sang mandor.Karena merasa tak tahu menahu, sang mandor menolak memberi ijin pada warga setempat untuk memasuki lokasi proyek.

“Karena terus mendesak, akhirnya sang mandor hanya mengijinkan mereka
untuk memeriksa di bagian menara,” tambahnya. Maka jadilah mereka
menuruni bagian menara untuk mendekati air di dalamnya, hingga seseorang menjerit histeris karena melihat potongan tubuh di roda roda mesin. Tangis dan jerit histeris mendadak pecah dan hal itu terdengar oleh serdadu penjaga proyek.

Karena khawatir terjadi sesuatu, akhirnya mandor warga negara Belanda itu memerintahkan pada para serdadu untuk menembaki kaum wanita dan anak anak yang berada di dalam menara.”Tapi itu hanya cerita dari mulut ke mulut yang tak pernah ditemukan buktinya,” tambahnya.

Cerita tersebut menjadi warna di Waduk Pacal karena bangunan itu sendiri secara kebetulan saat didekati di bagian pintu airnya,selalu mengeluarkan suara gema aliran air dan angin yang mirip dengan jerit tangis banyak orang.”Meskipun hanya cerita, tak jarang di bagian pintu air itu ada saja yang meletakkan sesaji,” pungkasnya. (rayan/red)

957total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi