Press "Enter" to skip to content

Mengunjungi Situs Geologi, Jalur Rimba Raya Menuju Goa Gondel

Bojonegoropost – Meskipun masih hangat usulan Situs Geologi yang akhirnya membuat Bojonegoro menjadi kawasan Taman Geologi Nasional, namun kondisi sejumlah situs yang termasuk di dalamnya hampir dapat dikatakan masih belum tampak digarap oleh Pemkab Bojonegoro.

Terutama situs-situs yang tidak dikelola oleh Pemkab. Salah satunya situs Goa Gondel di Desa Soko Kecamatan Temayang yang dikatakan sebagai tempat tinggal manusia purba.

Jalur termudah menuju Desa Soko adalah melalui Dusun Bulu di Desa Pajeng Kecamatan Gondang. Dengan mengendarai motor, jalur berpaving dapat ditempuh selama 30 menit. Sebelum tiba di Balai Desa Soko, rute selanjutnya adalah jalan setapak menuju ke dalam hutan yang masih dapat ditempuh dengan sepeda motor.

“Lewat jalan setapak nanti ada persimpangan pertama belok kiri hingga ada tanda merah ambil ke kanan,” ujar Adi, pemuda setempat yang sedang kongkow di sebuah sendang sebelum Balai Desa.

Tanda merah itulah satu-satunya penunjuk ke arah Goa Gondel. Tanda itu berupa semprotan cat pada sebuah pohon jati yang tak begitu kentara.

Bagi pendatang tanpa didampingi warga setempat, dipertigaan itulah kendaraan berhenti dan harus melanjutkannya dengan berjalan kaki. Sekitar 15 menit, rute setapak masih cukup ramah, jalannya cukup jelas. Kemudian rute akan berubah menjadi nyaris tertutup oleh rimbunnya belukar dan sedikit mendaki.

Tak lama, akan ditemukan jalur yang telah diberi alas beton. Beton yang tampak sangat lama karena telah dibalut lumut, kondisinya masih sangat bagus. Jalur beton di tengah hutan dengan pohon besar di kanan kirinya serta suara aneka sarwa yang tak biasa seolah membawa kita ke alam rimba raya.

Jalur beton yang mempunyai kemiringan cukup ekstrim itu cukup menguras tenaga, panjangnya sekitar 500 meter. Diujung jalur beton, rute yang benar-benar seperti tak pernah dijamah manusia akan menjadi petualangan berikutnya. Jalur ini benar-benar nyaris terlihat seperti tak mungkin dilalui.

Semak berduri dan pohon-pohon yang sesekali harus dilompati adalah yang harus dilewati. Tak hanya itu, aneka serangga seperti semut, nyamuk, ulat, dan lebah menjadi hambatan lain. Namun pohon-pohon besar dengan akar yang menjulur dari atas pun segarnya udara menjadi penyeimbangnya.

Rute rimba raya ini jarak tempuhnya sekitar 20 menit sebelum benar-benar tiba di Goa Gondel. Ada beberapa mulut goa yang ada di batu sangat besar itu. Goa terbesar ada di sebelah kanan, lebar mulut goa ini sekitar dua meteran dengan tinggi tiga meteran.

Goa terbesar ini memiliki satu ruangan yang luasnya sekitar 30 meter persegi dengan tinggi atap sekitar 10 meter. Dindingnya berhiaskan selendang stalaktit dan bagian paling atas dihuni oleh ratusan kelelewar.

Di kanan goa besar ada ceruk yang dibentuk oleh akar dan stalaktit. Tak ada keterangan apapun, hanya coretan cat semprot yang dibuat oleh peneliti geologi. Di kiri goa besar ada mulut goa kecil-kecil. Kontur batuan Goa Gondel ini dipenuhi lobang-lobang dan selendang stalaktit.

Menurut warga setempat, masih ada beberapa mulut goa lain yang ada rongga besar di dalamnya. “Disitu kadang ada orang bertapa,” kata penjual kopi di depan Balai Desa.

Hal lain yang dapat dijumpai di Desa Soko adalah batu lumpang yang diduga peninggalan jaman batu. Batu-batu lumpang itu ditempatkan di Balai Desa  “Biasanya kalau ada pengunjung, yang nemani adalah pak Carik,” tambahnya.

Setelah mengunjungi Goa Gondel, bagi yang ingin menyegarkan diri dapat menuju ke sumber mata air. Warga setempat menyebutnya dengan nama Ubalan Soko. Mulai dari mandi, berendam, membasuh muka, atau hanya bersantai melepas lelah, Ubalan Soko sangat representatif. (ramon pareno/red)

500total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi