Press "Enter" to skip to content

Ini Isi Lengkap Arahan Terakhir Bupati Bojonegoro

Bojonegoropost- Dihadapan ratusan orang yang hadir di Pendopo Malowopati (08/03), Bupati Bojonegoro menyampaikan arahan terakhirnya, berikut isi pidatonya yang berjudul Last Briefing:

Keputusan untuk mencalonkan diri menjadi Bupati Bojonegoro merupakan kelanjutan impian masa kecil. Ketika saat itu, saya dan teman-teman di kampung bermimpi suatu hari kelak, ada salah satu orang dari kami yang bisa menjadi kepala desa.

Kami berpikir, kalau kepala desa adalah salah seorang dari kami, maka keinginan-keinginan kami untuk melakukan perubahan di desa akan dapat diwujudkan. Impian ini didorong oleh kehendak untuk tidak hanya sekedar menjadi penonton, tapi menjadi “pemain” untuk melakukan perubahan yang lebih baik.

Bukan keputusan yang mudah bagi saya dan keluarga, karena waktu itu baru 2 tahun menjadi anggota DPR Jawa Timur. Mencalonkan diri menjadi bupati berarti membutuhkan kerelaan untuk melepas “kenyamanan”. Menjadi bupati juga memiliki konsekuensi bagi keluarga, untuk mengikhlaskan diri saya untuk menjadi “milik” orang banyak.

Menjadi bupati juga berarti merelakan diri untuk dihujat dan dipersalahkan. Namun, dengan dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitar saya waktu itu, maka tekad dan niat saya semakin diteguhkan. Dan akhirnya, selama 10 tahun lembaran-lembaran hidup saya sarat dipenuhi oleh aneka rona pengalaman sebagai Bupati Bojonegoro. Dalam lembaran inilah, tersurat berbagai cerita yang indah maupun yang sebaliknya. Dalam lembaran ini pula, terpatri berbagai guratan cerita “dari dan oleh” semua pihak.

Dan, lembaran-lembaran itulah yang akan saya pertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat, sebagaimana sumpah saya di awal jabatan.

Esensi dan Hakekat Pembangunan
Dari sekian banyak catatan dari lembaran-lembaran tersebut, berikut adalah catatan-catatan saya rasa penting untuk menjadi titik pijak dalam melanjutkan upaya pembangunan Bojonegoro yang lebih baik bagi semua. Dan salah satu dari sekian banyak catatan itu adalah terkait dengan “esensi dan hakekat pembangunan”.

Banyak orang menganggap bahwa pembangunan itu adalah selalu bersifat fisik semata. Namun, dari pengalaman saya selama ini, esensi pembangunan bermuara dari kehendak untuk membangun kapasitas, menemukan masalah, merumuskan solusi, memilih prioritas dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Kebersamaan inilah yang menjadi landasan utama dari pembangunan.

Dalam kebersamaan itu, berbagai kemustahilan akan berubah menjadi kenyataan. Kabupaten Bojonegoro yang pada awal kepemimpinan saya, menanggung hutang lebih dari sepertiga APBD, namun sekarang Bojonegoro sudah keluar dari posisi 10 daerah termiskin di jawa Timur. Siapa yang menyangka sebuah kabupaten yang menjadi langganan banjir dan kekeringan sekarang perlahan mulai percaya diri untuk membangun kemandirian.

Siapa yang menyangka pemerintahan yang dulunya dianggap menjadi bagian dari masalah, sekarang justru banyak diapresiasi dan dijadikan rujukan oleh berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari berbagai negara dan komunitas internasional.

Kolaborasi
Proses mengubah kemustahilan menjadi kenyataan bukanlah proses yang instant. Ketika itu, saya sadar ada banyak permasalahan yang terbentang dan harus diselesaikan. Sementara itu, ketersediaan anggaran sangatlah tidak memadai untuk menjalankan berbagai agenda penyelesaian masalah.

Dalam keterbatasan itulah, akhirnya saya sampai pada satu keyakinan bahwa solusi dari seluruh masalah tersebut adalah “kolaborasi”. Dan kolaborasi, hanya bisa terjadi jika ada saling percaya (mutual trust), dan mutual trust hanya bisa terjadi jika ada ruang komunikasi yang efektif.
Berdasarkan keyakinan itu, tindakan pertama yang saya pilih adalah “membuka ruang komunikasi serta membangun rasa saling percaya” antara birokrasi dengan rakyat dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi.

Itulah cikal bakal lahirnya tradisi “dialog publik”. Tidak berhenti sampai disitu, saya juga membuka dan memperluas jangkauan ruang-ruang komunikasi melalui berbagai media. Transparansi birokrasi juga terus dikembangkan agar rakyat dapat mengontrol kinerja pemerintah.

Dari proses-proses ini, perlahan-lahan rasa saling percaya mulai terbentuk. Perlahan-lahan kita mulai berhenti saling menyalahkan, dan mulai berpikir tentang solusi masalah secara bersama. Berbagai proses dan inovasi inilah yang akhirnya mengantarkan Bojonegoro menjadi pilot project dunia dalam Open Government Partnership. Dari sini terlihat, bagaimana peran dialog, komunikasi dan tumbuhnya rasa saling percaya dalam membentuk dan memperkuat mata rantai kapasitas multipihak. Dan mata rantai kapasitas multipihak ini terangkum satu intensi kolektif yang berbunyi: “Wong Jonegoro yang Sehat, Cerdas, Produktif dan Bahagia”.

Selain itu, membangun adalah upaya untuk menyuburkan ide-ide dan inovasi untuk pembaharuan kehidupan. Melaui penelitian disertasi tentang Desa Pajeng, sebetulnya saya sedang ingin menemukan bagaimana proses inovasi itu terus bertumbuh dalam masyarakat. Bagaimana masing-masing warga memiliki ide untuk membangun desanya. Dari proses penelitian itu, saya menemukan bahwa kondisi yang dapat memacu inovasi adalah adanya intensi dan keyakinan bersama, ruang dialog dan kualitas keterwakilan.

Spirit Saling Memberi
Membangun adalah melembagakan spirit saling memberi. Refleksi saya, menunjukkan betapa “mental peminta” adalah penyakit sosial yang sangat menghambat pembangunan. Dalam mental ini, para pihak akan lebih fokus untuk memikirkan bagaimana dirinya mendapatkan sesuatu dari orang lain, bukan berfikir tentang bagaimana melakukan sesuatu demi kepentingan bersama.

Dalam cahaya spirit memberi inilah, dari awal saya selalu menekankan tentang bagaimana pemerintah yang melayani, bukan malah yang “minta dilayani”. Ketika pemerintah dan semua pihak bersedia hadir dengan spirit memberi serta diimbangi dengan komunikasi dan transparansi, yang terjadi adalah lahirnya kemampuan melampaui keterbatasan.

Saling Respek
Membangun adalah bagaimana menciptakan suasana yang saling menghargai dan saling respek. Sejarah Bojonegoro telah bercerita panjang tentang konflik dan perang. Maka dari itu tantangan kita adalah bagaimana merubah hati kita yang lebih suka menyalahan, lebih suka iri dengki dan “gegeran” menjadi saling menghargai. Maka dari itu, membangun adalah juga bagaimana mengelola perbedaan agar tidak memicu perpecahan.

Dalam konteks inilah, mengapa harus pemerintah hadir untuk memfasilitasi kepentingan yang publik. Dan mengajak semua pihak untuk bersatu hati, pikiran dan upaya dalam merespon persoalan-persoalan publik, bukan yang malah terfokus pada isu-isu komunal dan privat. Ketika setiap perbedaan dapat didasari oleh intensi kehidupan yang lebih baik bagi semua, disitulah kita bisa saling menghargai dan menyikapi setiap perselisihan dengan proporsional.

Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Membangun adalah juga bagaimana kita menumbuhkan kepercayaan diri. Rakyat Bojonegoro adalah rakyat yang telah sekian lama tenggelam dalam kemiskinan. Keberanian untuk memiliki harapan adalah sesuatu yang hilang dari kehidupan kita. Kalau saya ibaratkan rakyat Bojonegoro ini seperti orang yang tenggelam.

Ketika tenggelam, kita hanya berpikir bagaimana kita bisa bernafas, bagaimana kita bisa makan besok. Pemerintah selama ini bekerja keras untuk paling tidak mengurangi beban itu, itulah mengapa jalan, pendidikan dan kesehatan digarap dengan serius. Kemudian yang tenggelam lama-lama sudah mulai “bisa bernafas”. Meskipun air masih setinggi dada, ketika bisa bernafas barulah rakyat Bojonegoro mulai bisa berfikir tentang apa yang bisa dilakukan untuk membuat kehidupan lebih baik.

Disinilah inovasi mulai tumbuh, ide-ide mulai muncul. Inilah mengapa dulu saya memutuskan membangun gedung PEMKAB dan masjid yang megah ini. Anak saya sendiri mengkritik kebijakan saya, karena masih banyak masalah lain yang lebih penting untuk diselesaikan. Saya menjelaskan pada anak saya, inilah cara untuk memancing rakyat Bojonegoro untuk percaya diri, untuk berani bermimpi dan memiliki harapan.

Ketika pada awalnya tenggelam, dan sekarang mulai bisa bernafas, selanjutnya akan tumbuh berbagai inovasi pembangunan, seperti wisata belimbing, negeri atas angin, kripik singkong sekar, GOFUN, batik bojonegoro, waduk Bendo dan lain-lain.

Budaya Berkemajuan
Membangun juga berarti membangun budaya yang berkemajuan. Budaya yang berkemajuan adalah tentang seni bagaimana berkompetisi, tetapi juga bagaimana membangun konsensus. Bagaimana menghargai hak asasi manusia lain. Dan juga bagaimana berbudaya jujur. Mengapa selama ini saya berjuang keras mengelola birokrasi yang bersih, mulai dari seleksi, mutasi dan setiap menjalankan fungsi.

Selama ini juga kita juga sudah menyepakati pakta kejujuran dalam ujian nasional. Hingga yang terakhir bagaimana seleksi perangkat desa kita buat bersih, jujur, dan transparan. Semua ini adalah usaha yang kita lakukan untuk membangun budaya. Saat ini sudah mulai kita rasakan dampaknya, kompetisi menjadi sehat. Bukan ditentukan siapa yang dekat, siapa yang membayar, tetapi karena memang dia layak.

Melembagakan Intensi
Membangun adalah proses melembagakan intensi. Pelembagaan juga berarti harus membuat produk hukum yang tidak melanggar aturan dan adil bagi semua. Termasuk juga bagaimana sinkronisasi anggaran. Dalam hal ini saya sering mengatakan jangan sampai ide dan terobosan-terobosan menjadi terhambat hanya karena aturan dan nomenklatur.

Kalau memang ada yang masih tidak sinkron, harus kita cari solusinya. Tugas seorang pemimpin adalah menyelaraskan itu semua. OGP dan open data contract adalah contoh bagaimana terobosan tentang trasparansi dan kolaborasi dilembagakan

Landasan bagi Kepemimpinan Berikutnya
Membangun juga menciptakan perasaan kolektif milik semua. Dulu di periode pertama, saya diprotes habis-habisan karena tidak mau membangun masjid. Ini adalah untuk menegaskan bahwa pembangunan bukan untuk sesuatu yang privat atau komunal. Kenapa yang dibangun adalah jembatan, jalan dan yang menjadi milik bersama.

Membangun itu ternyata juga sebuah proses penuaan
Yang harus kita sadari bersama juga adalah kita membangun Bojonegoro bukan hanya untuk Bojonegoro. Membangun Bojonegoro juga berarti kita sedang membangun harapan baru bagi Bangsa. Ketika kita membangun Bojonegoro, kita persembahkan semua untuk Indonesia dan peradaban manusia.

Apa yang saya pelajari selama sepuluh tahun ini adalah…
Saya dulu membayangkan saya ketika kampanya seolah-olah saya bisa seledaikan semua masalah di Bojonegoro. Ambisi saya turun ketika ternyata sadar punya hutang banyak, saya sadar ketika berhadapan dengan manusia yang punya kemauan yang berbeda-beda.
Saya tadinya paling takut dibentuk oleh kekuasaan. Setelah saya menjabat, awalnya saya kira saya yang mempengaruhi kekuasaan.

Ternyata malah saya yang jadi dibentuk dan dipengaruhi kekuasaan. Misalnya, saya akhirnya jadi bangun jam segini. Saya harus berkompromi dengan banyak orang. Kadang saya harus mengalah untuk tidak memaksakan kehendak. Menurut saya, 60 persen saya sadar bahwa saya mempengaruhi kekuasaan, 40 saya yang dikuasai. Karena saya, lingkungan birokrasi, dan rakyat ini saling mempengaruhi.

Akhirnya saat ini saya sadar bahwa pembangunan itu adalah bagaimana bergerak bersama untuk masa depan yang lebih baik.
Termasuk juga bagaimana saya memilih untuk menjadi pelatih bukan menjadi komandan. Karena menjadi pemimpin bagi saya bukanlah tentang seni memerintah tapi seni mempengaruhi.

Memimpin juga bukan hanya temtang memimpin, memimpin adalah bagaimana berkehendak, berniat dan memelihara niat. Terutama juga bagaimana mencintai.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadi kawan seperjalanan selama 10 tahun memimpin bojonegoro. mas Hartono, wabup yang telah menjadi senior sekaligus kawan.
Saya tidak akan pernah sampai seperti ini tanpa orang orang hebat di sekitar saya baik yang dekat maupun yg jauh. (*/red)

762total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi