Press "Enter" to skip to content

Kopri Nilai Bojonegoro Belum Welas Asih untuk Perempuan dan Anak

Bojonegoropost – Selain dari kacamata PMII, penilaian rapot merah Bupati Suyoto juga datang dari kacamata aktivis perempuan, Korps PMII Puteri (KOPRI). Salah seorang aktivis perempuan dari KOPRI Cabang Bojonegoro, Ika Arlina Safitri, dalam orasinya menyayangkan masih tingginya angka kekerasan perempuan dan anak di Bojonegoro. Hal ini, menurutnya, masih menunjukkan ketidakmampuan Bupati Suyoto dalam menyejahterakan perempuan dan anak. Hal ini dipandang berbanding terbalik dengan pencitraan Bojonegoro keluar.

“Di luar itu, katanya Kabupaten Welas Asih, Kabupaten Layak Anak, lagi, katanya Kabupaten Ramah HAM, tapi kekerasan perempuan dan anak banyak, dan belum ada penanganan yang tepat,” teriak Ika Arlina Safitri, Sekretaris KOPRI Cabang Bojonegoro, saat orasi di bundaran adipura Bojonegoro.

Senada dengan ungkapan tersebut, Ketua KOPRI Cabang Bojonegoro, Linda Estri Liyanawati, menegaskan bahwa Pemerintahan Suyoto telah gagal mewujudkan Bojonegoro yang digadang-gadang sebagai Kabupaten Welas Asih dan Kabupaten Layak Anak.

“Peran Pemerintahan Suyoto dalam menangani masalah perempuan dan anak belum nyata. Selama tiga tahun terakhir kasus kekerasan tersebut terus terjadi bahkan cenderung meningkat. Ironisnya, Bupati Suyoto seolah tidak peduli, hingga sekarang belum ada kebijakan pendukung untuk menurunkan kasus yang berdampak pada perempuan dan anak,” ujar Linda Estri Liyanawati, KOPRI Cabang Bojonegoro.

Linda menjelaskan, bahwa selama ini, kasus kekerasan tertinggi di Bojonegoro masih didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berujung pada perceraian. Meskipun regulasi untuk perempuan dan anak sedang di godog Komisi C DPRD, harusnya Bupati juga bisa membuat program pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak korban KDRT.

“Sepanjang tahun 2017 terdapat 13 kasus KDRT yang menimpa kaum perempuan. KDRT itu terjadi karena alasan ekonomi, kekerasan fisik, psikis, perkosaan hingga persetubuhan. Pemerintahan Suyoto punya P3A yang seharusnya bisa dimaksimalkan sebagai lembaga pemberdayaan perempuan dan anak, akan tetapi Bupati tidak pernah turun langsung dan malah sibuk ceramah ke luar negeri, seharusnya Bupati lebih punya cinta untuk perempuan dan anak,” pungkasnya. (kopri/red)

443total visits,0visits today

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open


Hotline red.bojonegoropost@gmail.com
Redaksi Perum Citra Permata Rajekwesi AA No 4, Ngumpakdalem, Dander, Bojonegoro

error: Maaf, halaman dilindungi